PENGANTAR EKONOMI MAKRO

Diposkan oleh I Made Suparta

I Made Suparta
Email: suparta.imade@yahoo.co.id
Blog: http://ekonomi-gotong-royong.blogspot.com



Tulisan depan< BAB I PENDAHULUAN
1.1. Definisi Ilmu Ekonomi Suatu studi mengenai bagaimana seharusnya manusia dan masyarakat menentukan pilihannya, baik dengan atau tanpa menggunakan uang dalam memanfaatkan sumberdaya yang terbatas jumlahnya dan yang mempunyai alternatif penggunaan untuk menghasilkan barang serta kemudian mendistribusikannya baik untuk keperluan sekarang atau masa yang akan datang di antara anggota-anggota masyarakat. 1.2. Pembagian Ilmu Ekonomi 1. Ilmu Ekonomi Deskriptif (descriptive Economics) Analisis ekonomi yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya dalam perekonomian. Jadi tugasnya mengumpulkan keterangan-keterangan faktual yang relevan dengan suatu masalah ekonomi. 2. Teori Ekonomi (Economic Theory) Gambaran sifat-sifat hubungan yang ada dalam kegiatan ekonomi dan ramalan tentang peristiwa yang terjadi bila hal-hal yang ada mengalami perubahan. Teori ekonomi merupakan penjelasan yg disederhanakan mengenai cara kerja sistem ekonomi dan pendapat-pendapat yang penting mengenai sistem itu. Pembagian Teori Ekonomi • Teori Ekonomi Mikro Teori ekonomi yang mempelajari kehidupan ekonomi dari unit-unit yang lebih kecil yang berada pada sistem perekonomian. • Teori Ekonomi Makro Teori ekonomi yang mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian sebagai suatu keseluruhan. 3. Ilmu Ekonomi Terapan (Applied Economics) atau ekonomi kebijakan Merupakan ilmu ekonomi yang mempelajari hasil-hasil pemikiran yang terkumpul dalam teori ekonomi untuk menerangkan keterangan-keterangan yang dikumpulkan oleh ekonomi deskriptif. 1.3. Masalah-Masalah Dalam Ekonomi Makro 1. Pengangguran Terjadi bila permintaan masyarakat lebih rendah dari kemampuan faktor-faktor produksi untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Bentuk pengangguran: struktural, friksional, teknologi, siklikal. Memaksimumkan output nasional harus mendorong tersedianya lapangan kerja. 2. Inflasi Terjadinya kenaikan harga-harga umum. Perekonomian stabil bila terdapat stabilitas harga. Stabilitas harga ditentukan oleh perencanaan produksi yang tepat. Jika terjadi perubahan harga, maka perubahannya dengan frekuensi yang rendah dan nilai yang tidak besar. 3. Pertumbuhan ekonomi Pertumbuhan ekonomi adalah kunci dari tujuan ekonomi makro. Pentingnya pertumbuhan ekonomi karena: (1) penduduk selalu bertambah, sehingga angkatan kerja bertambah; (2) keinginan dan kebutuhan tidak terbatas; dan (3) usaha penciptaan pemerataan ekonomi dan stabilitas ekonomi. 1.4. Diagram Alir Perekonomian 1. Perekonomian Dua Sektor Dalam sistem perekonomian dua sektor hanya terdapat dua unsur pelaku pasar, yaitu rumah tangga konsumen dan perusahaan. Gambar 1 Diagram Alir Perekonomian Dua Sektor 2. Perekonomian Dua Sektor Dengan Tabungan dan Investasi Dalam perekonomian dua sektor, ada kalanya rumah tangga tidak mengkonsumsikan semua pendapatannya, namun sebagian disimpan dalam bentuk tabungan (saving) yang pada akhirnya tabungan tersebut diinvestasikan. Gambar 2 Diagram Alir Perekonomian Dua Sektor Dengan Tabungan dan Investasi 3. Perekonomian Tiga Sektor dengan Tabungan dan Investasi Perekonomian tiga sektor adalah perekonomian dimana pemerintah ikut campur tangan. Bentuk campur tangan pemerintah adalah adanya pengeluaran pemerintah (government expenditure). Gambar 3 Diagram Alir Perekonomian Tiga Sektor 1.5. Sejarah Perkembangan Ilmu Ekonomi Makro • Bertambahnya campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi setelah terjadinya krisis ekonomi dunia tahun 1929-1932. • Ekonomi pasar bebas tidak selalu menjamin terwujudnya penggunaan faktor-faktor produksi secara efisien. • Dilandasi pemikiran John Maynard Keynes: The General Theory of Employment, Interest and Money. • Tingkat kegiatan ekonomi suatu negara ditentukan oleh keseluruhan pengeluaran yang dilakukan dalam masyarakat. • Tanpa campur tangan pemerintah, tingkat kegiatan ekonomi sulit dicapai kondisi full employment. • Teori ekonomi makro bertujuan untuk menunjukkan faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya masalah ekonomi makro dan bagaimanakah cara mengatasi masalah tersebut. BAB II PENDAPATAN NASIONAL 2.1. Tiga Pendekatan Penghitungan Pendapatan Nasional 1. Product approach (Pendekatan hasil produksi) 2. Income approach (Pendekatan pendapatan) 3. Expenditure approach (Pendekatan pengeluaran). Pendekatan Hasil Produksi Produk Domestik Bruto (PDB) adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun) Y = S Qi Pi Perhitungan Pendapatan Nasional Produsen Produk Akhir Jumlah Produk Harga per Unit (Rp) Nilai akhir (Rp) Nilai Tambah (Rp) A Benang 1000 yar 50 50.000 50.000 B Kain 5 meter 20.000 100.000 50.000 C Baju 2 buah 75.000 150.000 50.000 J u m l a h 50.000 Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 No Lapangan Usaha Nilai (milyar Rupiah) 1 Pertanian 547.235,60 2 Pertambangan dan Penggalian 206.668,70 3 Industri Pengolahan 886.510,10 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 34.726,20 5 Konstruksi 305.215,70 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 590.822,30 7 Pengangkutan dan Komunikasi 265.256,90 8 Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 305.216,00 9 Jasa-jasa 399.298,60 Produk Domestik Bruto 3.540.950,10 Pendekatan Pendapatan PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu wilayah negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa yang dimaksud adalah: upah dan gaji (TK), sewa tanah (tanah), bunga modal (modal) dan keuntungan (kewiraswastaan/enterprenership). Balas jasa tersebut sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. PDB masih mencakup penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tidak langsung dikurangi subsidi). ----- Pendapatan nasional atas dasar harga pasar. Y = Yw + Yt + Yi + Yp ------ Pendapatan nasional atas dasar biaya faktor produksi Pendekatan Pengeluaran PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari: 1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba 2. Konsumsi pemerintah 3. Pembentukan modal tetap domestik bruto 4. Perubahan stok 5. Ekspor netto (ekspor – impor). Y = C + I + G + (X - M) 2.2. Hubungan Antar Pendekatan Dalam Penghitungan Pendapatan Nasional Ketiga pendekatan dalam menghitung pendapatan nasional akan menghasilkan angka yang sama. Jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. Hasil perhitungannya disebut Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga pasar. 2.3. Beberapa Pengertian Pendapatan Nasional Perbedaan antara Produk Domestik dan Produk Nasional berada pada pendapatan terhadap luar negeri dari faktor produksi. Produk Domestik Bruto ditambah pendapatan neto terhadap luar negeri dari faktor produksi hasilnya merupakan Produk Nasional Bruto. Pendapatan neto terhadap luar negeri dari faktor produksi adalah sama dengan nilai imbalan terhadap penggunaan sumber-sumber daya milik penduduk negara kita yang dimanfaatkan oleh penduduk negara lain dikurangi dengan nilai imbalan terhadap penggunaan sumber-sumber daya asing yang dimanfaatkan oleh penduduk negara kita. Produk Domestik Neto PDN = PDB –D (D = Depresiasi ) Produk Nasional Neto PNN = PNB - D 2.4. Pendapatan Nasional Harga Berlaku, Harga Konstan dan Pendapatan Per Kapita PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang-barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun. PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang-barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar. Tahun dasar sekarang ini adalah tahun 2000. Manfaat PDB atas dasar harga berlaku dan PDB atas dasar harga konstan PDB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi. PDB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Pendapatan Nasional Harga Berlaku, Harga Konstan dan Pendapatan Per Kapita Tahun PDB Harga Berlaku Indeks Harga Implisit PDB PDB Harga Konstan 2003 2.013.674,60 127,68 1.577.171,30 2004 2.295.826,20 138,59 1.656.516,80 2005 2.774.281,10 158,46 1.750.815,20 2006 3.339.479,60 180,78 1.847.292,90 2007 3.957.403,90 201,50 1.963.974,30 2.5. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan yang dibentuk oleh berbagai macam sektor ekonomi, yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan ekonomi yang terjadi di suatu wilayah. Indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yang telah dicapai, dan berguna untuk menentukan arah pembangunan di masa yang akan datang. Pertumbuhan Ekonomi Tahun PDB Harga Konstan Pertumbuhan Ekonomi 2003 1.577.171,30 4,78 2004 1.656.516,80 5,03 2005 1.750.815,20 5,69 2006 1.847.292,90 5,51 2007 1.963.974,30 6,32 2.6. Distribusi Pendapatan Konsep-Konsep Distribusi Pendapatan Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya. Tiga kriteria untuk menilai kemerataan distribusi pendapatan yang paling lazim: 1. Kurva Lorenz 2. Gini Coefficient (GC) 3. Kriteria Bank Dunia Kurva Lorenz Kurva lorenz menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan nasional di kalangan lapisan-lapisan penduduk secara kumulatif pula. Kurva lorenz yg semakin dekat dengan garis diagonal (OC), semakin merata distribusi pendapatan nasional, dan sebaliknya. Gini Coefficient (GC) Adalah suatu koefisien yang berkisar antara 0 hingga 1, menjelaskan kemerataan distribusi pendapatan nasional. Semakin kecil GC berarti semakin merata distribusi pendapatan, dan sebaliknya Menurut HT Oshima: GC <> 0,4 : ketimpangan tinggi
Rumus GC:


fi = Proporsi jlh rumah tangga dlm kelas i
Xi = Proporsi jlh kumulatif rumah tangga dlm kelas i
Yi = Proporsi jlh kumulatif pendapatan dlm kelas i
i = Kelas i dibagi dalam 5 kelas:
20% termiskin, 20% ke dua, 20% ke tiga,
20% ke empat, dan 20% terkaya.

Kriteria Bank Dunia

Penduduk dibagi 3 lapisan :
40% penduduk berpendapatan terendah
40% penduduk berpendapatan menengah
20% penduduk berpendapatan tertinggi

Yang dianalisis 40% penduduk termiskin:
Bila menerima <> 17% pendapatan nasional: ketimpangan rendah
Ketidakmerataan distribusi pendapatan dapat ditinjau dari 3 segi:
1. Pembagian pendapatan antar lapisan pendapatan masyarakat
2. Pembagian pendapatan antar daerah (antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan)
3. Pembagian pendapatan antar wilayah (antar propinsi dan antar kawasan).



BAB III
TEORI KONSUMSI

3.1. Konsep-Konsep Teori Konsumsi

Arthur Smithies (Absoulue Income Theory)
Konsumsi berdasarkan efek kekayaan, penduduk desa-kota, dan efek advertensi.

Simon Kuznets
Menghubungkan antara pengeluaran konsumsi masyarakat dengan tingkat pendapatan mereka.
Kesimpulan penelitiannya:
1. Perlu dibedakan antara fungsi konsumsi jangka panjang dan fungsi konsumsi jangka pendek, karena keduanya berbeda.
2. Fungsi konsumsi jangka pendek mengala-mi pergeseran ke atas (dalam C = C0 + cY, C0 meningkat dari waktu ke waktu).

A. Ando, R. Brumberg dan F. Modigliani (Life Cycle Hypothesis)
Pola pengeluaran konsumsi dipengaruhi oleh masa dalam siklus hidupnya.
Konsumsi tergantung pada labor income (YL) dan kekayaan bersih konsumen (A).
Ct = c YLt + a At

Milton Friedman (Permanent Income Theory)
Konsumsi berdasarkan barang tahan lama dan tidak tahan lama. Pembelian barang tahan lama lebih tidak faktor non pendapatan.
Cp = kYp

James Duesenberry (Relative Income Theory)
Konsumsi berkaitan dengan gaya hidup yang dipengaruhi lingkungan.
Pengeluaran konsumsi masyarakat ditentu-kan terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya
Apabila pendapatan berkurang, konsumen tidak akan bnyak mengurangi pengeluaran-nya untuk konsumsi. Mereka terpaksa mengurangi saving.

3.2. Fungsi Konsumsi Keynes

Beberapa catatan fungsi konsumsi Keynes:
1. Variabel nyata.
Fungsi konsumsi menunjukkan hubungan antara pendapatan nasional dengan pengeluaran konsumsi yang kedua-duanya menggunakan tingkat harga konstan.
2. Pendapatan yang terjadi.
Yang menentukan besarnya pengeluaran konsumsi adalah pendapatan nasional yang terjadi (current national income).
3. Pendapatan absolut.
Pendapatan nasionalnya adalah pendapatan nasional absolut.
Bukan menggunakan pendapatan relatif, pendapatan permanen dan sebagainya.
4. Bentuk fungsi konsumsi.
a. Fungsi konsumsi memotong sumbu vertikal pada nilai C0 yang positif.
b. Fungsi konsumsi berbentuk lengkung dengan nilai MPC yang menurun dengan meningkatnya pendapatan nasional.

Fungsi konsumsi sederhana Keynes sebagai berikut:
C = C0 + c(Y + Tr – Tx) (0 < c =" C0" y =" C" y =" C" c =" C0" c0=" besarnya" y =" 0" c =" hasrat" consume =" MPC)" c =" (APCn-" c0 =" (APCn-" apc =" hasrat" c0 =" (APCn" c0 =" (0,90" c =" 30" s =" Y" s =" Y" s =" sY" c0 =" S0," s =" S0" s0=" besarnya" y =" 0" s =" hasrat" save =" MPS)." c =" 30" s =" Y" s =" 0,4Y" mps =" 1" mpc =" 1" mps =" 1" aps =" 1" apc =" 1" aps =" 1" i =" Ī." i =" I0" i =" MPI" y =" C" y =" C" y =" C" s =" C" s =" I" c =" 30" i =" Rp" y =" C" y =" 30" 4y =" 80" y =" Rp" c =" 30" c =" 30" c =" Rp150" s =" 0,4(200)-30" s =" 80" s =" Rp" s =" Y" s =" 200" s =" Rp" i =" S" t =" Rp" y="C." y =" C" y =" 30" 4y =" 30" y =" Rp" y =" C" y =" C" y =" C0" cy =" C0" y =" C0" i =" S" i =" S" sy =" Ī" c0 =" -" s =" 1" s =" 1" c =" 30" i =" Rp" y =" kΔI" y =" 2,5(10)" y =" Rp" y2 =" Y1" y2 =" 200" y2 =" Rp" c2 =" C1" c2 =" 150" c2 =" Rp" s2 =" S1" s2 =" 50" s2 =" Rp" c =" 30" i =" 50" y =" C" y =" 30" 15y =" 80" 25y =" 80" y =" Rp" i =" 50" c =" 50" c =" Rp" c =" 30" c =" 30" c =" Rp" s =" 0,4(320)" s =" 128" s =" Rp" i =" S" t =" Rp" y="C." y =" C" y =" 30" 4y =" 30" y =" Rp" y =" C" y =" C" y =" C0" iy =" C0" y =" C0" i =" S" iy =" S0" iy =" I0" c0 =" -" s =" 1" s =" 1" c =" 30" i =" 50" y =" kΔI" y =" 4(10)" y =" Rp" y2 =" Y1" y2 =" 320" y2 =" Rp" c2 =" C1" c2 =" 222" c2 =" Rp" s2 =" S1" s2 =" 98" s2 =" Rp" i2 =" I1" i2 =" 98" i2 =" Rp" i =" S,"> S, Inflationary Gap (IG)
I < c =" 30" i =" Rp" s =" 0,4Y" s =" 0,4" ig =" Rp" s =" 0,4" dg =" Rp" c =" 30" i =" 50" s =" 0,4Y" i =" 50" ig =" 92-82" s =" 0,4Y" i =" 50" dg =" 114-104" c =" C0" c0 =" besarnya" yd =" 0" yd =" Y" tr =" Transfer" tx =" Pajak" c =" hasrat" consume =" MPC)." c =" 30" tr =" 40" tx =" 60" c =" 30" c =" 30" c =" 30" c =" 18" s =" Yd" s =" Yd" s =" sYd" c0 =" S0," s =" S0" s0 =" besarnya" yd =" 0" s =" hasrat" save =" MPS)." c =" 30" s =" Yd" s =" 0,4Yd" s =" 0,4" s =" 0,4Y" s =" 0,4Y" tx =" G"> G + Tr maka posisinya surplus
Bila:Tx < y =" C" y =" C" y =" C" tr =" C" tx =" I" c =" 30" tx =" Rp" tr =" Rp" i =" Rp" g =" Rp" c =" 30" c =" 30" c =" 30" c =" 18" s =" 0,4" s =" 0,4Y" s =" 0,4Y" y =" C" y =" 18" y =" 0,6Y" 6y =" 120" 4y =" 120" y =" Rp" yd =" Y" yd =" 300" yd =" Rp" c =" 18" c =" 18" c =" 18" c =" Rp" s =" 0,4Y" s =" 0,4(300)" s =" 120" s =" Rp" s =" Yd" s =" 280" s =" Rp" tx =" I" 60 =" 50" 142 =" 142" g =" 52" tr =" 40" tr =" Rp" tx =" 60" y="C." y =" C" y =" 18" 4y =" 18" y =" Rp" y =" C" y =" C" y =" C0" y =" C0" y =" C0" cy =" C0" y =" C0" c =" 30" tx =" Rp" i =" Rp" g =" Rp" tr =" Rp" c =" 30" i =" 50" tx =" Rp" g =" Rp" tr =" Rp" c =" 30" c =" 30" c =" 30" c =" 18" s =" 0,4" s =" 0,4Y" s =" 0,4Y" y =" C" y =" 18" y =" 0,75Y" 75y =" 120" 25y ="120" y =" Rp" yd =" Y" yd =" 480" yd =" Rp" c =" 18" c =" 18" c =" 18" c =" Rp" s =" Yd" s =" 460" s =" Rp" i =" 50" i =" 50" i =" Rp" tx =" I" 60 =" 122" 214 =" 214" y =" C" y =" C" y =" C0" y =" C0" y =" C0" iy =" C0" y =" C0" y =" C" m =" ekspor" y =" C" y =" C" m =" C" m =" I" c =" 30" tx =" Rp" tr =" Rp" i =" Rp" g =" Rp" x =" Rp" m =" 20" c =" 30" c =" 30" c =" 30" c =" 18" s =" 0,4" s =" 0,4Y" s =" 0,4Y" y =" C" y =" 18" y =" 0,6Y" y =" 0,5Y" 5y =" 140" y =" Rp" yd =" Y" yd =" 280" yd =" Rp" c =" 18" c =" 18" c =" 18" c =" Rp" s =" 0,4Y" s =" 0,4(280)" s =" 112" s =" Rp" s =" Yd" s =" 260" s =" Rp" m =" 20" m =" 20" m =" 20" m =" Rp" m =" I" 48 =" 50" 182 ="182" x =" 40" m =" 48" y="C." y =" C" y =" 18" 4y =" 18" y =" Rp" y =" C" y =" C" y =" C0" y =" C0" y =" C0" my =" C0" y =" C0" c =" 30" i =" 50" tx =" Rp" g =" Rp" tr =" Rp" x =" Rp" m =" 20" c =" 30" c =" 30" c =" 30" c =" 18" c =" 30" c =" 30" c =" 30" c =" 18" y =" C" y =" 18" y =" 0,60Y" 60y =" 140" 4y ="140" y =" Rp" y =" C" y =" 18" y =" 0,60Y" 60y =" 140" 4y ="140" y =" Rp" c =" 18" c =" 18" c =" 18" c =" Rp" s =" Yd" s =" 330" s =" Rp" i =" 50" i =" 50" i =" Rp" m =" 20" m =" 20" m =" Rp" m =" I" 5 =" 102,5" 182 =" 182" y =" C" y =" C" y =" C0" y =" C0" y =" C0" my =" C0" y =" C0">

Baca Selengkapnya......

Kiat Sukses Menulis di Jurnal Ilmiah

Diposkan oleh I Made Suparta

Oleh:
I Made Suparta

Email: suparta.imade@yahoo.co.id



MASALAH
• Saya harus menulis apa?
• Saya memulainya dari mana?
• Layakkah tulisan saya dimuat dalam jurnal ilmiah?


TAHAP-TAHAP MENEMUKAN SUATU PERMASALAHAN

• membaca buku,
• lingkungan,
• data dan
• penelitian sebelumnya.

MEMBACA SEBAGAI GURU MENULIS
Buku-buku, jurnal, internet (blog, website).

Tujuannya:
Belajar tentang tulisan dan menambah wawasan.

SEGERALAH MENULIS
Ketika kita punya ide, tulislah. Janganlah menunggu sampai kita punya ide yang lengkap.

PUBLIKASI
• Jurnal terakreditasi
• Jurnal tidak terakreditasi
• Non jurnal.

Caranya:
Kirimkan tulisannya (artikel, hasil penelitian) secara langsung atau melalui email.

KUNCI POKOK MENULIS
• Perlu latihan-latihan. Karena menulis sebagai sebuah kemampuan, bukan sebuah bakat.
• Jangan takut untuk memulai: harus berani.
• Lakukan sekarang juga.
• Menyukai menulis.

GUNAKAN JURUS JITU ATM
• Amati
• Tiru, dan
• Modifikasi

Baca Selengkapnya......

Koperasi Sebagai Penyelamat Perekonomian Pedesaan

Diposkan oleh I Made Suparta

Latar Belakang Masalah

Dalam pembangunan ekonomi Jawa Timur, pemerintah daerah memiliki strategi dan kebijakan pembangunan dalam tiga tahun ke depan yang diarahkan pada pertumbuhan ekonomi yang terfokus pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta pemenuhan hak-hak dasar masyarakat. Untuk mencapai keberhasilan strategi pembangunan tersebut, maka ditetapkanlah tujuh agenda pembangunan. Dua dari tujuh agenda tersebut berhubungan dengan bidang ekonomi, yaitu agenda ke tiga dan ke empat. Agenda ke tiga berisi penanggulangan kemiskinan, pengangguran, perbaikan iklim ketenagakerjaan dan memacu kewirausahaan. Sedangkan agenda ke empat berisi percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan pembangunan infrastruktur (Anonim, 2008: 1-2).

Kerangka pembangunan di Jawa Timur adalah mengikuti paradigma pertumbuhan yang didalamnya mengandung pemberdayaan masyarakat dan pemerataan. Dalam kerangka tersebut, fokus perhatian bukan lagi ditujukan hanya untuk mencapai tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi (yang biasanya diikuti peningkatan kesenjangan), melainkan telah bergeser kepada alternatif lain berupa pertumbuhan yang mungkin moderat tetapi diikuti pemerataan yang optimal (Anonim, 2008: 78).

Pada beberapa tahun terakhir ini, pemerintah telah menaruh perhatian yang sangat serius pada perkembangan UMKM. Banyak dari usaha mikro dan usaha kecil yang telah dibina oleh pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UKM.

Koperasi termasuk dalam katagori usaha kecil dan menengah (UKM), yang bila dikembangkan secara benar akan mampu memberdayakan masyarakat dan akan menghasilkan pemerataan dalam pembagian hasil-hasil pembangunan. Hal ini sesuai dengan fungsi dan peran koperasi yang dimuat dalam Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 yaitu:

a. membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya;

b. berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat;

c. memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan Koperasi sebagai sokogurunya;

d. berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Koperasi sebagai suatu organisasi bisnis yang para pemiliknya (anggotanya) adalah juga pelanggan utama perusahaan tersebut. Para anggota adalah orang-orang yang memiliki keinginan yang sama sehingga dengan semakin banyaknya suatu koperasi memiliki anggota maka diharapkan akan semakin berkembangnya koperasi tersebut. Akan tetapi perkembangan koperasi terutama koperasi konsumen banyak mendapatkan hambatan baik dari pasar tradisional maupun dari pasar modern.

Perkembangan pasar modern seperti supermarket di daerah perkotaan dan minimarket mulai dari daerah perkotaan hingga daerah-daerah pedesaan, tidak hanya mengancam keberadaan pasar tradisional, akan tetapi juga mengancam keberadaan koperasi konsumen baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Seperti yang disampaikan oleh Djajaprana (Surya, 12 September 2009) bahwa minimarket telah menggurita hingga tingkat kelurahan yang berdampak pada pasar tradisional yang menjual produk yang sama bakal mati.

Perkembangan minimarket yang sangat cepat ke daerah-daerah pedesaan, yang secara umum minimarket dimiliki oleh pengusaha-pengusaha yang bersifat nasional dengan manajemen pemasaran yang sangat bagus sehingga dapat mengusai pemasaran barang-barang kebutuhan pokok, menyebabkan daya beli masyarakat melalui keuntungan yang diperoleh minimarket banyak terkuras ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya dan bahkan ke luar negeri. Hal ini sangat merugikan bagi perekonomian pedesaan.

Alternatif Pemecahan

Berdasarkan pada paparan di atas maka koperasi konsumen memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah agar perekonomian pedesaan dapat diselamatkan. Adapun strategi yang digunakan adalah: Pertama, Dinas Koperasi yang ada di daerah-daerah (kabupaten dan kota) secara serius membantu koperasi konsumen yang ada di daerahnya masing-masing, terutama dalam bidang manajemen sehingga dapat bersaing dengan minimarket yang telah berkembang di daerah-daerah pedesaan. Kedua, Gubernur sebagai kepala pemerintahan provinsi dapat membantu masyarakat pedesaan untuk mendirikan koperasi konsumen dengan menggunakan dana P2SEM. Selama ini dana P2SEM banyak disalahgunakan oleh anggota DPRD, pengusul proposal atau oleh broker. Dana tersebut banyak yang tidak memenuhi sasaran dan bahkan banyak yang tidak terealisasi (fiktif). Banyak dana yang dihambur-hamburkan. Suatu pelatihan internet yang diberikan kepada beberapa puluh orang saja dalam waktu 1-2 jam dibutuhkan dana beberapa ratus juta rupiah, padahal sepuluh juta rupiah saja sudah cukup. Oleh karena itu dana P2SEM akan jauh lebih bermanfaat bagi pembangunan perekonomian pedesaan melalui pendirian koperasi konsumen. Setiap tahun dana tersebut jumlahnya sangat besar dan bila dana tersebut betul-betul diarahkan kepada pendirian koperasi konsumen, maka dalam waktu 5 tahun sebagian besar dari desa-desa yang ada di Jawa Timur telah memiliki koperasi konsumen. Ketiga, Bila koperasi konsumen telah didirikan maka perlu didirikan stockies atau pusat grosir di beberapa daerah (seperti yang terjadi pada minimarket) yang mensuplai produk yang dijual oleh koperasi konsumen sehingga koperasi konsumen bisa bersaing dengan minimarket.

Oleh : Drs. Ec. I Made Suparta, MM

Baca Selengkapnya......